LAPANGAN TEMBAK WASAKA DI BANJARMASIN
DOI:
https://doi.org/10.20527/jtamlanting.v9i1.550Kata Kunci:
Shooting Range, Shooting, Behavior Architecture, AthletesAbstrak
Kalimantan Selatan selama 10 tahun terakhir memiliki atlet menembak yang cukup potensial untuk berlaga di tingkat nasional maupun internasional. Hal tersebut tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai yang dapat mewadahi segala aktivitas latihan para atlet. Latihan merupakan peran penting dalam meraih prestasi, akan tetapi saat ini tempat berlatih tidak mendukung atlet untuk memaksimalkan potensinya. Arsitektur perilaku sebagai metode penyelesaian masalah agar dapat memaksimalkan potensi atlet dimulai dari 3 bagian latihan yaitu emosi, kognisi dan performance. Lapangan Tembak Wasaka didesain agar atlit sebagai pengguna utama dapat melakukan latihan dengan konsep metamorfosis yang menyiapkan atlet secara emosi dan kognisi. Dengan konsep ini, area akan terbagi tiga zona yaitu transisi, persiapan, dan zona inti.