BIOSKOP DAN PUJASERA DI BANJARBARU
DOI:
https://doi.org/10.20527/jtamlanting.v15i1.3822Kata Kunci:
Bioskop, Pujasera, Hibrida, Ruang Publik, AksesibilitasAbstrak
Industri bioskop Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan dengan total 60 juta penonton pada tahun 2024. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih terkonsentrasi di wilayah Pulau Jawa. Pemerintah berusaha membangun bioskop di berbagai kota, termasuk kota Banjarbaru untuk meningkatkan kesetaraan industri. Saat ini, bioskop di Kalsel terletak di pusat perbelanjaan dengan harga tiket yang relatif mahal dan memiliki fasilitas terbatas. Dengan kondisi tersebut, maka diperlukan penggabungan bioskop dan tempat makan seperti pujasera melalui pendekatan hibrida dengan konsep “Temu Ramai”. Konsep ini menggabungkan kedua fungsi secara vertikal, menciptakan ruang transisi yang dimanfaatkan sebagai ruang publik, dan aksesibilitas antar lantai yang ramah pengunjung.